YANARDIAN AGRIANTO

My self, My Opinion, My Knowledge, simply … My blog.

RPR

Companies traditionally have gained basic resiliency for their metropolitan Ethernet networks through a Layer 2 mechanism such as Spanning Tree or Layer 3 routing protocols. But these mechanisms, with their few-second network restoration times, are inadequate for delay- and jitter-sensitive data applications that are proliferating rapidly on enterprise networks. To gain greater resiliency, corporations have had to install fixed-bandwidth point-to-point circuits, or fiber pairs, between campus nodes along with back-up paths for protection – a costly endeavor.

What companies need is a metropolitan Ethernet architecture with the resiliency of SONET but with significant network efficiencies for packet-based services. Resilient Packet Ring (RPR) is an emerging Layer 2 media access control (MAC) technology that meets those needs. The IEEE created a draft specification for RPR and is expected to ratify the standard this year.
Read the latest WhitePaper – Experiencing Network Hang-ups?

RPR uses Ethernet switching and a dual counter-rotating ring topology to provide SONET-like network resiliency and optimized bandwidth usage, while delivering multipoint Ethernet/IP services. RPR maintains its own protection scheme and uses physical-layer alarm information and Layer 2 protocol communications to detect node and/or link failures. When a failure is detected, the RPR switching mechanism restores networks in less than 50 millisec.

Because RPR is a Layer 2 MAC-based technology, it can operate over multiple physical layers, including SONET. Therefore, corporations can reap the benefits of RPR by having it ride over the SONET network to deliver the resilient, efficient, multipoint functionality and scalability of data applications such as VoIP, packet video, business continuance and distance learning.

Or they can install multiservice provisioning platforms, which are optimized for TDM services but also can support advanced data applications via RPR over SONET. The advantage is that existing TDM services are maintained, while a smooth migration to packet-based services is enabled.

Another major advantage of RPR’s dual-rotating ring design is that Ethernet traffic is sent in both directions on the ring to achieve the maximum bandwidth utilization. Unlike older ring-based data networks such as token ring or FDDI, RPR uses a spatial reuse mechanism. Rather than requiring traffic to traverse the entire ring even though a destination node is only a hop away, RPR sends it there directly, keeping the rest of the ring bandwidth available for use by other stations on the network.

To further enhance the network efficiency and support multimedia applications, the IEEE has included a classification scheme and a fairness algorithm in the RPR specification. This guarantees that jitter- and delay-sensitive traffic is always given higher-priority access to the network. Meanwhile, best effort (Internet type) data traffic is ensured equal access and a “fair” share of the remaining ring bandwidth.

RPR also uses statistical multiplexing so that bandwidth can be oversubscribed, while establishing committed information rate (CIR) and peak-rate thresholds on a per-application basis. This guarantees each enterprise application a CIR and the ability to burst up to the peak rates when bandwidth is available. With such a mechanism, each department is charged only for using extra bandwidth rather than being billed for a larger, nailed-up circuit, regardless of use.

Widespread corporate adoption of RPR will help usher in the cost-effective transport of popular Ethernet and IP communications services. RPR transport will provide efficient bandwidth protection, accommodate bursty data traffic and provide the quality of service needed for these advanced packet applications.

Technology Update By Tejas Vashi, Network World, 05/31/04

Filed under: wireline technology

ASON sebagai routing SDH di backbone network

Teknologi backbone merupakan teknologi yang digunakan di core network maupun metro network. Teknologi backbone harus memiliki kehandalan yang tinggi, seperti menjamin kecepatan transmisi, fleksibilitas dalam perubahan network, dan memiliki kemampuan redundancy. Hal ini penting karena backbone merupakan kumpulan bandwidth dari aplikasi-aplikasi di network bawahnya (access network).

Dengan semakin meningkatnya layanan/service yang diberikan operator telekomunikasi kepada pelanggan, kebutuhan bandwidth juga semakin meningkat. Sehinga, untuk melayani services seperti triple play, Video On Demand (VOD), IPTV, VoIP dan sebagainya, operator telekomunikasi membutuhkan transport service yang lebih besar, cepat dan memiliki redundancy jika terjadi masalah di dalam network.

Teknologi SDH yang sudah banyak digelar menjamin kecepatan, namun kurang dalam masalah redundancy. Yang disediakan di dalam SDH hanya kemampuan untuk protection. Permasalahannya adalah apa yang akan terjadi jika protection yang diberikan juga mengalami gangguan? Di sisi lain, teknologi router dalam IP backbone memungkinkan untuk melakukan redundancy ke banyak route. Sehingga jika perangkat backbone mengalami gangguan, masih banyak cadangan rutenya (multi fault handling).

Bagaimana kalau perangkat backbone yang kita punyai atau yang akan kita bangun merupakan network SDH? Sementara kita menginginkan backbone tersebut mempunyai redundancy ke banyak rute, sehingga kehandalannya bisa terjamin?

Saat ini ada teknologi ASON (Automatically Switched Optical Network) atau disebut juga ASTN (Automatically Switched Transport Network) yang memungkinkan penambahan fasilitas routing pada perangkat SDH. Teknologi ASON merupakan intelegent network dimana secara otomatis mengoptimalkan routing dalam interconnection SDH dan juga utilisasi bandwidth. Istilah ASON berasal dari ITU yang mendefinisikan architecture-nya, sedang kemampuan dalam routing (control/data palane) berasal dari standar IETF.

Pembagunan perangkat ASON dilakukan di settiap node backbone SDH, dengan melakukan update data dan pemberian nilai cost untuk routing. Update data dilakukan dengan memperhatikan koneksi secara fisik antar node yang ada. Dan pemberian cost dilakukan berdasarkan kondisi network yang ada (bandwidth utilization, reliability maupun kondisi fisiknya).

gambar1. cara kerja ASON

Cara kerja ASON sangat sederhana. Pada gambar 1 dapat dilihat data informasi routing dari A ke F dan cost yang diberikan di tiap route. ASON akan memilih nilai cost yang paling rendah sebagai jalur menuju node tujuannya. Jika jalur yang dipilih mengalami gangguan, pada jalur tersebut diberikan nilai cost yang tinggi (misalnya 100) dan ASON mencari route baru berdasar cost terendah berikutnya. Sehingga, walaupun terjadi banyak gangguan, bacbone masih bisa menggunakan network cadangan yang ada.

Teknologi ini sangat berguna jika topologi network backbone (core maupun metro) yang dibangun menggunakan tipe mesh (full/partial). Topologi ini memungkinkan setiap node berhubungan secara langsung dengan node-node yang lain. Sehingga memiliki banyak alternatif rute jika backbone network mengalami multiple fault. ASON menggunakan sistem restoration atau protection and restoration combined (PRC) sebagai fault handling-nya.

Sedangkan topologi backbone network saat ini masih banyak menggunakan topologi ring dimana proses redudancy menggunakan sistem protection (SNCP/MS-SPRING). Sehingga tidak memungkinkan memiliki multiple fault handling.

Beberapa keunggulan dari ASON (menggunakan network topologi mesh) dibandingkan network SDH existing saat ini adalah :
- High availability, dengan kemampuan multiple protection
- High flexibility dalam penggunaan rute
- High scalability, tiap node bisa upgrade secara independent
- Effiesen dalam penggunaan bandwith
- Maintenance cost yang rendah

Contoh pemanfaatan teknologi ASON untuk mobile network adalah untuk menghubungkan antar node MSC (Mobile Switching Center). Sehingga jika ada jalur antar MSC yang drop, bisa dilewatkan melalui jalur yang lain untuk menghindari kerugian yang lebih besar. Selain itu, ASON bisa digunakan sebagai teknologi di backbone dengan aplikasi-aplikasi yang sensitif terhadap fault (misal. VoIP, aplikasi perbankan, maupun aplikasi real-time)

Beberapa contoh vendor dengan product ASON/GMPLS antara lain: Alcatel 1678 MCC, Ciena CoreDirector, Ericsson OMS3250, Lucent LambdaUnite MSS, Nortel Optical Cross Connect HDX dan masih banyak lagi (sumber: www.currentanalysis.com)

Filed under: wireline technology

Calendar

November 2009
M T W T F S S
« Mar    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

My pages

MY E-MAIL

imel pemberian Oom Gugel

imel pemberian Tante Yahoo

imel pemberian Pakde Hotmail

MY COMMUNITY

View yanardian agrianto's profile on LinkedIn